Kekerasan Seksual Dalam RUU KUHP

MediaTribrata – RUU KUHP masuk dalam detik-detik akhir untuk diputuskan oleh DPR. Satu pasal diantaranya ada memuat bab yang berkaitan dengan Kekerasan Seksual. Di antaranya tentang perluasan makna pemerkosaan/ perkosaan , yaitu seks oral dan seks anal termasuk dalam definisi pemerkosaan /perkosaan. 

Berdasarkan draf RUU KUHP terakhir, Bab Ketiga adalah bab Perkosaan. Pemerkosaan diartikan sebagai: Setiap orang yang dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seseorang bersetubuh dengannya.

Hal itu terdapat perbedaan dengan definisi perkosaan dalam KUHP yang ada pada saat ini. KUHP saat ini mensyaratkan perkosaan dengan pelaku adalah laki-laki dan masuknya alat kelamin lelaki ke alat kelamin perempuan. Hal itu tertuang dalam Pasal 285 KUHP yang bunyinya adalah: Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh dengan dia di luar perkawinan diancam karena melakukan perkosaan dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.

Definisi perkosaan dalam RUU KUHP akhirnya mengalami perubahan, yaitu bisa dilakukan oleh suami ke istrinya/perkosaan dalam rumah tangga. 

“Dipidana karena melakukan perkosaan, dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun,” inilah sanksi yang didapatkan pemerkosa menurut dalam RUU KUHP.