Edy Rahmayadi Berikan Penjelasan Polemik Wisata Halal Danau Toba

MediaTribrata – Edy Rahmayadi selaku Gubernur Sumatera Utara menjelaskan, wisata halal yang belakangan ini menimbulkan beberapa polemik di tengah masyarakat sumut, khususnya bagi etnis Suku Batak di sekitaran Danau Toba, bukan untuk menghilangkan budaya maupun mengecilkan agama tertentu.

“Ada pihak yang salah menafsirkan, kemudian mendramatisir wisata halal, dan akhirnya menyalahkan. Ini yang menjadi masalah. Masyarakat menjadi salah menanggapinya,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan, suatu daerah yang menjadi tempat kunjungan wisata bagi para turis, bukan dilihat dari sisi agama yang dianut oleh masyarakat sekitarnya. Melainkan setiap daerah wisata juga harus melihat lebih jauh bagaimana kebutuhan wisatawan di tempat tersebut.

“Kita tidak memandang apa pun itu agamanya. Tetapi kalau ada orang Islam datang ke tempat itu, contoh di Bali, ada makanan di situ, rumah makan halal. Di Thailand yang mayoritas beragama Buddha, tapi di situ ada rumah makan halal,” paparnya.

Konsep wisata yang sedang dibangun memiliki tujuan untuk mengembangkan pariwisata di kawasan Danau Toba sebagai destinasi wisata internasional, tetapi tidak serta merta menghilangkan budaya masyarakat yang sudah turun- temurun dianut oleh masyarakat sekitaran Danau Toba.

“Banyak orang yang tidak memahami. Konsep wisata halal Danau Toba bukan berarti semua rumah makan di sana harus berlabel halal. Ini orang-orang belum mengerti, bahkan sampai ada yang mendramatisir. Itu dia yang menjadikan masalah,” jelasnya.

Ia juga mengatakan bahwa produk halal yang dimaksud bukanlah merupakan kewenangan pemerintah untuk memberikan penjelasan terkait hal tersebut. Karena hal itu merupakan kewenangan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk menjelaskan.

“Seperti penyelenggaran Sail Nias 2019 yang akan berlangsung dalam waktu dekat ini. Orang-orang tidak akan datang ke Nias apabila tak ada tempat untuk makan. Kita tidak boleh mengecilkan agama apapun,” ungkapnya.