Polisi Amankan Pelaku Yang Berniat Untuk Menggagalkan Pelantikan Presiden

MediaTribrata –   Polda Metro Jaya menangkap enam orang atas nama inisial SH, E, FAB, RH, HRS, dan PSM. Mereka ditangkap karena diduga ingin menggagalkan pelantikan Presiden dan Wakil Presiden Joko Widodo-Ma’ruf Amin di Gedung MPR RI kemarin.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan, keenam orang tersangka tergabung dalam satu WhatsApp Group berinisial F. Grup tersebut untuk membahas terkait rencana penggagalan pelantikan.

Argo menjelaskan, tersangka SH masih mempunyai hubungan dengan dosen IPB nonaktif yakni Abdul Basith. Hubungan keduanya itu berencana untuk menggagalkan pelantikan menggunakan ketapel dan bola karet.

“Rencananya menggunakan ketapel dan bola karet. Dari hasil pemeriksaan dapat diketahui akan dipakai di Gedung DPR untuk menyerang aparat, akan diberikan ke demonstran,” jelasnya.

Bola karet yang digunakan oleh para tersangka tersebut diketahui dapat meledak. Di dalam bola karet tersebut terdapat bahan peledak yang dapat meledak seperti mercon banting.

“Ini dibuat mirip dengan mercon banting. Dilempar, ada perantara mudah terbakar biar cepat menyambar. Misalnya perantara bensin. Barang bukti ada gotri, plastik ekslusif yang bisa meledak, ketapel dan kelereng,” terangnya.

Argo menyebut, SH memiliki peran sebagai pembuat group WhatsApp sekaligus memasukkan sejumlah orang yang kini sudah mencapai 123 member. Dalam grup itu, nantinya akan menjaring sejumlah orang adalah satu yakni menggagalkan pelantikan presiden.

“Yang buat ide dan buat grup adalah tersangka SH, buat grup WA dan memasukkan beberapa member untuk tujuannya menggagalkan pelantikan,” sebutnya.

“Tersangka SH ini kita tangkap di daerah Jatinegara, sedang merakit peluru ketapel. SH membuat grup dan mencari dana untuk membuat peluru ketapel, menyediakan ketapel kayu dan besi,” sambungnya.

Lalu, untuk tersangka E yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga ini memiliki peran membiayai dan membuat peluru ketapel. Saat ditangkap, E sedang bersama SH saat sedang membuat peluru.

Atas perbuatannya, para tersangka dijerat Pasal 169 ayat 1 KUHP dan atau Pasal 187 ayat 1 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 Undang-Undang Darurat dengan ancaman hukuman lima sampai dua puluh tahun penjara.