2 Calon Vaksin Corona Mulai Uji Klinis Tahap Akhir, Libatkan 30.000 Relawan

Kandidat vaksin virus corona telah memasuki tahap akhir (fase tiga) dan resmi diujicobakan pada manusia di Savannah, Georgia, Amerika Serikat, pada Senin (27/7) kemarin. Vaksin ini digarap oleh perusahaan bioteknologi Moderna yang bekerja sama dengan National Institutes of Health.
ADVERTISEMENT

Rencananya, vaksin eksperimental bakal diberikan pada sekitar 30.000 relawan warga Amerika Serikat, yang setengah di antaranya akan diberikan plasebo. Selain Moderna, raksasa farmasi Pfizer juga mengumumkan bakal memulai uji coba vaksin corona pada 30.000 orang di 120 lokasi seluruh dunia.
“Hari ini kami berpartisipasi dalam peluncuran bersejarah vaksinologi,” ujar Anthony S. Fauci, direktur National Institutes of Allergy and Infectious Disease, dalam sebuah pernyataan seperti dikutip Washington Post.

Fauci mengatakan, hasil dari uji coba vaksin Moderna akan diketahui pada November atau Desember mendatang, meski tidak menutup kemungkinan hasilnya keluar lebih cepat dari prediksi sebelumnya. Sementara pihak Pfizer berharap vaksin buatannya sudah dapat izin edar dari regulator pada Oktober mendatang.

Otoritas setempat telah memperingatkan agar uji coba vaksin yang bergerak sangat cepat ini tidak mengesampingkan keselamatan relawan riset. Jangan sampai mereka hanya menjadi kelinci percobaan. “Tidak ada kompromi sama sekali berkenaan dengan keselamatan atau integritas ilmiah,” ujar Fauci.

Untuk melihat seberapa efektif vaksin Moderna bekerja, kata Fauci, perlu setidaknya 150 infeksi corona di antara 30.000 peserta yang ikut dalam uji coba. Sementara Mark Mulligan, direktur NYU Langone Vaccine Center mengatakan, vaksin Pfizer akan diberikan pada sekitar delapan orang peserta pada Selasa (28/7) hari ini.

Shishir Khetan, seorang dokter yang memimpin dalam upaya perekrutan sekitar 300 hingga 400 orang peserta penelitian mengatakan, bahwa uji coba pertama akan jauh lebih lambat ketimbang hari-hari berikutnya, sebab uji coba saat pandemi dinilai lebih rumit dari massa normal.

Selain itu, ada kesalahpahaman yang terjadi di masyarakat yang menganggap bahwa ketika mereka divaksin, itu berarti akan terinfeksi virus corona. Padahal, vaksin tidak akan menyebabkan infeksi. Vaksin merupakan potongan materi genetik virus yang telah dilemahkan, kata Khetan.

Selain dua kandidat vaksin yang mulai diujicobakan ke manusia, ada tiga vaksin lain yang segera menyusul melakukan uji klinis tahap tiga, termasuk vaksin ciptaan para peneliti University of Oxford dan AstraZeneca, satu dari Johnson & Johnson, serta terakhir dari perusahaan bioteknologi Novavax.
Jika uji coba berjalan lancar, Moderna berencana memproduksi sekitar 500 juta dosis vaksin per tahun, dengan target membuat 1 miliar dosis setiap tahun pada 2021. Pemerintah Amerika Serikat sendiri telah menggelontorkan dana sekitar 472 juta dollar atau setara dengan Rp 6,86 triliun untuk mendukung pengembangan vaksin tersebut. (sumber: kumparan.com)

Jangan lewatkan..