Sumanggar Siagian : Ruang Isolasi 1511 Yang Tak Mungkin Bisa Dilupakan

mediasumutku.com – Siapa yang bilang virus Corona itu hanya isu atau hanya kata-kata saja? Ungkapan yang mengatakan bahwa virus itu tidak ada terbantahkan oleh pengakuan Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kasi Penkum Kejati Sumut) Sumanggar Siagian, SH,MH yang menyatakan bahwa virus itu benar adanya.

Oleh : James P. Pardede

“Saya ingin menyampaikan agar kita sama-sama menjaga bahwasannya virus Corona (Covid-19) itu benar-benar ada dan saya sudah mengalami sendiri bagaimana rasanya terpapar virus Corona ini,” kata Sumanggar, Selasa (20/10/2020) lalu.

Sumanggar dinyatakan positif setelah menderita demam tinggi, setelah demam tinggi langsung dibawa ke rumah sakit Royal Prima untuk dicek oleh dokter dan pihak rumah sakit. Setelah dicek, suhu badan mencapai 39,5 derajat celcius dan tensi 145/90.

Setelah pemeriksaan dokter, lanjutnya dengan suhu badan seperti itu berarti harus di opname di rumah sakit dan langsung dimasukkan ke ruang perawatan lantai 15. Setelah itu dokter langsung melakukan pemeriksaan swab (tes usap) di laboratorium rumah sakit. Setelah menjalani tes swab, mantan Kasi Pidum Binjai ini pun dirawat selama 4 hari di rumah sakit Royal Prima dan didampingi isteri, setelah itu keluarlah hasil swab dan dinyatakan positif terpapar virus Covid-19.

Hanya Ada Perawat dan Dokter

Begitu dinyatakan positif, langsung disarankan untuk isolasi ke tempat khusus penanganan pasien Covid-19 yang ada di Royal Prima. Sebelumnya dirawat di lantai 15, begitu dinyatakan positif Covid-19 langsung dipindahkan ke lantai 11.

“Di lantai 11 ini memang tempat khusus bagi pasien yang terjangkit virus Corona. Begitu sampai di ruang isolasi, saya melihat ruangannya tidak ada perbedaan dengan ruangan perawatan umum biasa. Semua ada fasilitasnya, saya bersyukur sekali ternyata ruang isolasi itu tidak seperti yang kita bayangkan seperti penjara,” tandasnya.

Ternyata, lanjutnya ruangan tempat isolasinya sangat lengkap mulai dari televisi, kulkas, AC dan kelengkapan lainnya untuk memudahkan pasien sembuh dari Covid-19.

Ini lah pengalaman hidup yang sangat mengesankan dimana pada saat kita sakit tidak ada yang boleh menjenguk kita, katanya. Yang bisa melihat kita hanya perawat dan dokter. Tiap 3 jam sekali mereka melakukan pengecekan keadaan kita, mulai dari suhu tubuh, tensi dan memonitoring kadar Oksigen dalam tubuh kita menggunakan sensor SPO2.

“Jadi tiap 3 jam sekali perawat wajib melakukan pemeriksaan keadaan kita. Oh, inilah yang dinamakan terpapar virus Covid-19 itu. Jadi betul-betul dilakukan pemeriksaannya,” tandasnya.

Menurut Sumanggar, selama berada di rumah sakit harus berjuang untuk menjaga stamina dan mengonsumsi obat yang dianjurkan oleh dokter. Jadi harus benar-benar percaya kepada Tuhan bahwa kita bisa terbebas dari penyakit ini. Intinya adalah kita harus tetap berdoa dan berdoa meminta kepada Tuhan bahwa kita ini memang kaum yang lemah dan perlu betul-betul meminta kekuatan dari Sang Pencipta.

“Karena Dia itu Sang Pencipta, Dia yang menciptakan kita. Tuhan Yesus itu baik kepada kita, Dia selalu menuntun kita, Dia selalu menguatkan kita dengan cara kita meminta kepada Tuhan agar kita selalu dilindungi-Nya dan berpengharapan kepada-Nya selaku pemilik tubuh kita,” tegasnya.

Jadi, lanjut Sumanggar selama berada di ruang isolasi banyak memang pengalaman-pengalaman berharga yang diperoleh dari sana. Dimana pola hidup yang dijalani sangat teratur. Mulai dari makanan dan minuman semua dijaga. Setiap 2 atau 3 jam kita diberikan makanan tambahan seperti bubur kacang hijau, vitamin, buah-buahan, kue atau hidangan lainnya. Yang pasti semua makanan ini diharapkan bisa menambah stamina tubuh kita agar imun kita semakin kuat.

“Ada juga obat-obatan dari luar, suplemen yang benar-benar menambah stamina dan saya selalu mengonsumsi madu. Setiap saat kita minum madu dari pagi sampai kita mau tidur pun masih minum madu. Kemudian, kita sering juga disodori jus buah-buahan seperti jus buah delima serta buah kurma,” paparnya.

Isteri Juga Positif

Satu hal yang selalu dilakukan Sumanggar setiap kali mau tidur malam atau tidur siang, saya selalu mengoleskan minyak kayu putih ke dada, tubuh dan punggung. Saya juga oleskan/teteskan ke lidah untuk menjaga agar kita mudah menarik nafas. Dengan minyak kayu putih ini kita bisa terbantu menarik nafas dengan lega.

“Semua kegiatan ini saya lakukan dan jalani sampai hari ke-17. Anggapan yang ada dibenak saya bahwa isolasi di rumah sakit itu sangat menyeramkan, ternyata tidak. Memang, selama saya diisolasi ada saja yang meninggal dunia. Melihat hal itu, semangat kita jangan langsung turun, karena hidup kita sudah diatur oleh Tuhan, jadi percaya saja bahwa Tuhan akan menjaga kita,” tegasnya.

Sumanggar dan isteri Emma Manalu

Sumanggar juga selalu yakin bahwa Tuhan pasti akan menolong orang yang taat, dan dalam kondisi seperti itu ia tidak merasa takut. Pasca ia masuk isolasi, isterinya Emma Manalu juga dinyatakan positif dan diisolasi di Bunda Thamrin Medan. Menghadapi situasi ini, Sumanggar tidak surut semangatnya. Karena, setiap pagi ia selalu saat teduh dan berdoa, membaca firman Tuhan. Karena Dia-lah pemilik tubuh kita, begitu kata Sumanggar dengan semangat.

“Sampai hari ini, saya masih ingat ruangan yang saya huni itu nomornya 1511 (ruangan nomor 15 berada di lantai 11). Ruangan yang tak akan mungkin saya lupakan. Di ruangan itulah saya melakukan isolasi selama 17 hari. Dimana, minggu pertama saya tidak bisa kemana-mana dan harus infus karena masih demam,” tandasnya.

Di minggu pertama itu, katanya ia harus berjuang keras agar demamnya segera sembuh. Ia pun harus diinfus dan setiap hari mengonsumsi antibiotik, vitamin dan obat lainnya.

Kemudian di minggu kedua, demam sudah hilang. Yang ada adalah batuk berdahak. Batuk sekali-kali dan keluar lendir. Untuk menghilangkan ini, ia kembali disuntik dan diberikan obat. Setelah 3 sampai 4 hari pada minggu kedua kondisi tubuh semakin membaik. Nah, disaat inilah pasien baru bisa keluar untuk berjemur dari jam 09.00 WIB sampai jam 10.00 WIB.

“Pada saat berjemur ini, kita bisa berinteraksi dengan pasien lain yang terpapar Covid-19. Kemudian, sore hari juga kita dianjurkan untuk berjemur. Tapi kalau cuaca tidak mendukung, ya kita tidak berjemur. Kita juga dianjurkan untuk banyak minum air putih,” katanya.

Terapkan Protokol Kesehatan

Selama dalam perawatan dan isolasi ini, kata ayah dua anak ini kita berupaya sendiri untuk sembuh dan imun tubuh kita semakin kuat. Secara khusus, Sumanggar menyampaikan apresiasi dan ucapan terimakasih kepada perawat dan dokter yang merawatnya selama isolasi. Karena perawat dan dokter adalah garda terdepan dalam penanganan pasien terpapar virus Corona.

Himbauan dari Sumanggar dan isteri yang telah sembuh dari Covid-19 kepada teman-teman atau warga masyarakat yang merasa dirinya kebal virus, segera buang jauh-jauh anggapan itu. Karena virus Covid-19 ini tidak pandang bulu dan tidak pandang latar belakang. Setiap orang memiliki peluang untuk tertulas virus ini.

“Kita harus betul-betul mengantisipasi agar jangan sampai terkena virus ini. Caranya, ya kita harus betul-betul mematuhi protokol kesehatan. Yaitu, selalu memakai masker, rajin mencuci tangan pakai sabun dan menjaga jarak serta menghindari kerumunan,” tuturnya.

Itu bukan hanya himbauan semata, tambahnya. Tapi, untuk dipatuhi dan dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Agar kita terhindar dari penyebaran virus ini. Tidak hanya di luar rumah, di rumah sendiri pun atau di keluarga kita harus benar-benar menjaga agar kita semua tidak terpapar virus ini.

“Intinya adalah, kembali kepada diri kita sendiri, agar kita disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan, paling tidak dengan cara ini virus Covid-19 ini bisa segera berlalu dan kita bisa menjalankan aktivitas kita dengan normal seperti sedia kala,” tandasnya.