Alissa Wahid Teringat Derita Orang Ahmadiyah Saat Diserang FPI

mediasumutku.com | JAKARTA – Alissa Wahid, putri pertama Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid, memuji langkah perintah membubarkan dan melarang Front Pembela Islam (FPI). Obsesinya sejak 10 tahun lalu agar Indonesia tanpa FPI, kini terwujud.

Titik awal dia terobsesi meneruskan perjuangan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), adalah ketika FPI menyerang kampung Ahmadiyah di Manis Lor, Kuningan, Jawa Barat, beberapa tahun lalu.

“Orang Ahmadiyah via telpon menangis: Kami akan bertahan sampai mati. Seandainya masih ada Gus Dur, pasti beliau besok pagi sudah berdiri di depan gerbang kami,” tulis Alissa melalui akun twitternya, @alissawahid, Rabu (30/12/20), menirukan kembali percakapannya.

Kenyataan seperti itulah yang mendorong dia terjun ke kancah gerakan kemanusiaan. Termasuk menentang berbagai bentuk kekerasan.

Karena itulah ketika menyimak jumpa pers Kemenkopolhukam, ia langsung teringat aksinya bersama para aktifis turun ke jalan sekitar tahun 2010-2011, menentang kekerasan.

Unjuk rasa dengan tagar #IndonesiaTanpaFPI itu mereka gelar karena FPI berkali-kali melakukan aksi kekerasan.

Alissa ingat betul, aksi Indonesia Tanpa FPI di Bunderan HI itu kemudian ricuh. Seorang temannya, Bhagavad Sambadha dipukuli lalu dibawa ke Polda Metro.

“Saya temenin. Untung ada video jurnalis. Dicari provokatornya dari situ. Ternyata orang FPI yang di tasnya bawa batu dan senjata tajam,” tulisnya.

Cuitan Alissa langsung direspon sang rekan, Bhagavad Sambadha, melalui akun @fullmoonfolks, “Terima kasih, mBak. Waktu itu ada dalapan orang yang menemani di Polda sampai malam. Sampai sekarang aku masih ingat semua, siapa saja,” ujarnya.

Berbagai komentar mengalir menyusul pernyataan Alissa. Sebagian besar setuju dan memuji tindakan pemerintah, meski terlambat. Ada juga yang sebaliknya, memuji FPI.

Semua ada fungsinya, tulis akun @budiyuliaziz. “Kasus Ambon, jika tak ada FPI, mungkin umat Islam akan habis. Dan, maaf saya belum pernah dengar FPI rebutan lahan parkir atau pesta dangdutan,” ujarnya.

Kontan saja Alissa merespon balik. “Anda ke Ambon ndak tahun 1999 dan 2000? Bila ya, pengalaman kita berbeda,” tulis Alissa.

Saya, kata Alissa, beberapa kali ke sana. Pertama, tinggal tiga hari di rumah takmir masjid raya, dan tiga hari di wilayah Kristen.

“Saya bertemu laskar kedua belah pihak, pengungsi dua pihak. Klaim anda tidak saya temui.” tegas Alissa.