Sektor Retail dan Makanan Cepat Saji Dorong Pertumbuhan GapMaps di Indonesia

MEDAN- GapMaps, perusahaan spesialis software pemetaan berbasis cloud dari Australia yang membantu berbagai organisasi dengan penyediaan strategi jaringan dan perencanaan informasi lokasi, terus memperluas kehadiran internasional mereka yang kini telah menjangkau 21 negara termasuk Indonesia.

Walaupun sektor retail terdampak oleh Covid-19, mereka telah beradaptasi dengan pola permintaan baru dari pelanggan dan membangun saluran baru dalam melakukan pemasaran.

Di Indonesia, GapMaps melihat saluran pengiriman makanan cepat saji mengalami pertumbuhan yang kuat, sehingga menciptakan permintaan akan data dan wawasan yang memungkinkan para brand untuk melakukan perencanaan yang lebih baik dan menangkap potensi pasar yang berkembang tersebut.

“Sejak 2018, kami telah menambahkan lima pasar baru setiap tahun dan memperoleh pertumbuhan pendapatan dua digit dari tahun ke tahun (year-on-year),” kata Anthony Villanti, Managing Director dan Founder GapMaps, Kamis (25/11/2021).

Saat ini, terdapat sekitar 500 brand yang menggunakan GapMaps dalam sektor-sektor yang membutuhkan lokasi fisik, seperti pusat kebugaran, stasiun pengisian bahan bakar, toko bahan makanan, restoran cepat saji, pusat perbelanjaan, dan toko serba ada.

“Pertumbuhan tersebut kami alami berkat kemudahan penggunaan dan kecanggihan software pemetaan kami, yang menggunakan data demografi, pemerintah, dan industri termutakhir untuk membantu klien memilih toko fisik yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan bisnis mereka,” katanya.

Tim Shaw, Director Market Planning GapMaps, mengatakan, beberapa brand global yang merupakan klien kami yang berasal dari Australia menganjurkan agar kami memasuki pasar yang baru supaya mereka dapat menggunakan GapMaps di luar negeri. Hal tersebut adalah salah satu alasan utama ketika kami memutuskan perluasan bisnis.

Saat Indonesia mengurangi pembatasan Covid-19 secara bertahap, GapMaps mengamati dan memantau adanya peningkatan aktivitas pejalan kaki di pusat keramaian, perbelanjaan, dan kawasan ritel lainnya.

“Kami mengira akan terdapat variabilitas antar negara yang disebabkan oleh perbedaan pembatasan lockdown dan saat pembatasan tersebut dilonggarkan atau dihapus,” ujarnya, (MS11)